Minggu, 02 Oktober 2011

Pemicu Tindakan Terorisme dalam Perspektif Ekonomi Politik

Latar Belakang

Terorisme merupakan salah satu bentuk tindak kejahatan khusus yang dapat menimbulkan kerugian besar bagi suatu negara. Dampak kerugian yang ditimbulkan ada yang sifatnya langsung dirasakan, ada pula yang sifatnya tidak langsung. Dampak kerugian langsung bisa berupa kerusakan fisik di sekitar lokasi berlangsungnya tindakan terorisme yang meimbulkan kerugian yang tidak sedikit, misalnya lokasi yang dijadikan tempat peledakan bom. Semakin masif serangan yang dilakuakn teroris, semakin besar pula kerugian langsung yang ditimbulkan. Namun, di sisi lain, ada pula dampak kerugian yang sifatnya tidak langsung yang jumlahnya bisa jadi lebih besar dibandingkan dampak kerugian yang sifatnya langsung. Terjadinya tindakan terorisme di suatu negara secara tidak langsung bisa mengancam sejumlah sektor lapangan usaha dalam perekonomian negara tersebut yang sensitif terhadap perubahan kondisi keamanan. Sebagai contoh, sektor transportasi atau pengangkutan, khususnya transportasi udara, mengingat banyak serangan terorisme yang terjadi di dalam pesawat terbang, seperti dalam peristiwa 11 September saat dua pesawat menabrak gedung WTC. Selain itu, sektor pariwisata juga menderita kerugian yang cukub besar akibat kejadian terorisme. Hal ini dibuktikan dengan menurunnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali dan objek-objek tujuan wisata lainnya di Indonesia. Dampak kerugian dari tindakan terorisme yang secara tidak langsung mempengaruhi kinerja (perkembangan) sektor lain ini bisa dikategorikan sebagai eksternalitas negatif dalam perspektif ilmu ekonomi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terorisme diartikan sebagai penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik), atau dapat pula diartikan sebagai praktik tindakan teror. Terorisme sendiri pada hakikatnya merupakan suatu tindak kejahatan ekstrim yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menebarkan teror, ancaman, ketakutan, kekhawatiran, dan rasa tidak aman di tengah-tengah masyarakat sehingga menimbulkannya adanya pergolakan dan ketidakstabilan baik secara ekonomi, sosial, maupun politik.

Sebuah aksi terorisme dapat dikatakan berhasil jika masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak lain yang menjadi target aksi terorisme itu merasa takut, khawatir, dan tidak aman. Namun, selama teror berupa ketakutan, kekhawatiran, dan rasa tidak aman itu tidak menyebar luas di masyarakat, aksi terorisme bisa jadi tidak mencapai tujuan yang mereka harapkan. Hal ini sudah disadari dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia (yang telah mengalami sejumlah aksi terorisme dan radikalisme) dengan mempopulerkan slogan “Kami Tidak Takut!” untuk melawan aksi terorisme dan mengdisinsentif terjadinya aksi-aksi terorisme di masa yang akan datang.

Dengan berlatar belakang permasalahan mengenai terorisme dan dampak kerugian potensial yang ditimbulkan terhadap perekonomian suatu negara, karya tulis ini bertujuan untuk menganalisis faktor – faktor pemicu terjadinya tindakan terorisme di suatu negara. Faktor – faktor tersebut penting untuk dianalisis, diteliti, dan dipahami lebih lanjut agar pemerintah (selaku pengambil kebijakan) dapat mengetahui langkah – langkah strategis apa saja yang perlu dilakukan untuk merealisasikan upaya – upaya preventif untuk mencegah terjadinya tindakan terorisme tersebut. Analisis yang dilakukan lebih banyak menitikberatkan pada analisis berdasarkan ilmu ekonomi yang dipadukan dengan perspektif ekonomi politik, mengingat terorisme pada dasarnya merupakan sutu fenomena sosial yang juga dipengaruhi oleh aspek – aspek politik. Secara garis besar, analisis yang dilakukan menemukan setidaknya tiga faktor pemicu timbulnya tindakan terorisme di Indonesia, antara lain: faktor – faktor sosioekonomi dan demografis, konspirasi politik penguasa, dan kekecewaan akan kegagalan negara. Walaupun demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan faktor mana yang paling signifikan memicu aksi terorisme di Indonesia.

Selain itu, karya tulis ini juga memberikan rekomendasikan sejumlah upaya preventif yang perlu dilakukan pemerintah dalam mencegah terjadinya aksi serangan teroris di masa yang akan datang berdasarkan kesimpulan dan hasil analisis faktor – faktor pemicu tindakan terorisme tersebut.

Peristiwa - Peristiwa Terorisme di Indonesia

Selepas terjadinya pergolakan reformasi politik tahun 1998 dan pergantian rezim pemerintahan di Indonesia, sejumlah peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai tindakan terorisme banyak terjadi sehingga menimbulkan kecemasan dan mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri. Peristiwa – peristiwa itu telah menjadi topik pemberitaan utama di sejumlah media massa nasional, baik cetak maupun elektronik, serta menjadi isu nasional dan menyita perhatian khusus dari pemerintah. Berdasarkan data yang dirangkum dari berbagai sumber, tercatat dari tahun 2000 hingga tahun 2011, telah terjadi lebih dari dua puluh tindakan terorisme di Indonesia.

Pada pertengahan tahun 2000, tepatnya pada tanggal 1 Agustus 2000, terjadi ledakan bom di depan rumah duta besar Filipina untuk Indonesia di kawasan Menteng, jakarta Pusat yang menewaskan dua orang korban termasuk duta besar Filipina, Leonides T. Caday. Pada tanggal 27 Agustus 2000, terjadi ledakan granat di Kedutaan Besar Malaysia di daerah Kuningan, Jakarta. Gedung Bursa Efek Jakarta juga menjadi sasaran ledakan bom yang menewaskan sepuluh orang pada tanggal 13 September 2000. Yang paling menggemparkan pemberitaan media nasional adalah terjadinya serangkaian peristiwa ledakan bom pada malam Natal di sejumlah kota di Indonesia yang menewaskan enam belas orang korban jiwa.

Pada pertengahan tahun 2001, aksi terorisme kembali menjadikan tempat peribadatan (gereja) sebagai sasaran. Bom meledak di Gereja Santa Anna dan HKBP pada tanggal 22 Juli 2001 yang menewaskan lima orang korban jiwa. Ledakan bom juga terjadi pada tanggal 23 September 2001 di kawasan pusat perbelanjaan Plaza Atrium di daerah Senen, Jakarta Pusat. Aksi teror bom juga terjadi di Makassar pada tanggal 12 Oktober 2001. Ledakan bom terjadi di restoran KFC, selain itu ada pula bom yang gagal meledak di kantor MLC Life cabang Makassar. Institusi-institusi yang memiliki kaitan dengan asing sepertinya terus menjadi sasaran aksi terorisme, salah satunya pada tanggal 6 November 2001, sebuah bom rakitan meledak di Sekolah Internasional Australia (Australian International School/AIS) di kawasan Pejaten, Jakarta.

Pada tahun 2002, terjadi serangan bom yang paling masif di Indonesia, yaitu peristiwa Bom Bali yang terjadi pada tanggal 12 Oktober 2002. Ledakan bom yang dahsyat ini memakan korban jiwa sebanyak 202 orang yang kebanyakan merupakan wisatawan asing (mayoritas korban berasal dari Australia) dan ratusan orang luka - luka. Selain itu, sejumlah ledakan bom juga terjadi sejumlah kota, seperti ledakan granat di Jakarta dan ledakan bom di berbagai gereja di Palu (1 Januari 2002), ledakan bom rakitan di Konjen Filipina, Manado (12 Oktober 2002), dan ledakan bom rakitan di restoran McDonald’s Makassar.

Pada tahun 2003, aksi serangan teroris di Indonesia belum juga surut. Pada 3 Februari 2003 terjadi ledakan bom rakitan di Wisma Bhayangkari, Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, Jakarta. Tanggal 27 April 2003, ledakan bom terjadi di bandar udara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Adapun serangan teroris yang paling besar pada tahun 2003 terjadi pada tanggal 5 Agustus 2003, yaitu ledakan bom di Hotel JW Marriot yang menewaskan 11 orang dan ratusan orang lainnya luka – luka.

Pada tahun 2004, tindakan terorisme masih saja terjadi di sejumlah tempat, seperti peristiwa Bom Palopo (10 Januari 2004), Bom Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta (9 September 2004), dan ledakan bom di Gereja Immanuel, Palu (12 Desember 2004). Pada tahun 2005, sejumlah ledakan bom dan tindakan terorisme terjadi di luar Jakarta, antara lain: peristiwa ledakan bom di Ambon (21 Maret 2005), Bom Tentena (28 Mei 2005) yang menewaskan 22 orang korban jiwa, Bom Pamulang (8 Juni 2005), Bom Bali II (1 Oktober 2005) yang menelan korban jiwa sebanyak 22 orang dan lebih dari seratus orang luka – luka, dan Bom Pasar Palu (31 Desember 2005) yang menewaskan delapan orang korban jiwa.

Selepas tahun 2005, upaya – upaya pemerintah dalam memerangi tampaknya telah mebuahkan hasil. Penangkapan otak di balik sejumlah serangan teroris pun berhasil dibekuk dan dijatuhi hukuman berat (beberapa di antaranya divonis hukuman mati). Akan tetapi, kondisi keamanan yang mulai kondusif tanpa adanya aksi terorisme di dalam negeri kembali diusik dengan adanya ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton di daerah Kuningan, Jakarta pada tanggal 17 Juli 2009. Tentu peristiwa ini dikhawatirkan merusak stabilitas keamanan dalam negeri dan pertumbuhan ekonomi nasional yang telah pulih. Belum lagi, gejolak – gejolak politik juga ikut menyeruak setelah terjadinya ledakan bom ini. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan bahwa ada gerakan teroris yang berupaya mengancam keselamatannya berdasarkan informasi dari intelejen.

Peristiwa ledakan bom kembali mereda di tahun 2010, sejumlah pelaku tindak terorisme juga berhasil ditangkap oleh pihak kepolisian. Kewaspadaan akan timbulnya tindakan – tindakan terorisme membuat kepolisian melakukan berbagai upaya – upaya pencegahan dan penggagalan. Pada tahun 2011, aksi terorisme kembali muncul dengan target yang berbeda. Misalnya, pada kasus Teror Bom Buku yang menyasar pada tokoh – tokoh yang dianggap liberal. Letakan bom bunuh diri terjadi pula di sebuah masjid dalam komplek Markas Polres Kota Cirebon (15 April 2011), diindikasikan bahwa polisi kembali menjadi target dari para pelaku bom. Salah satu kasus serangan teroris terbaru terjadi di dekat Gereja Christ Cathedral, Serpong, Tangerang Selatan (23 April 2011), ditemukan bom yang direncanakan meledak pada tanggal 24 April 2011, namun berhasil digagalkan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Dapat dilihat bahwa peristiwa – peristiwa terorisme di Indonesia memiliki sasaran dan lokasi yang bermacam – macam, mulai dari institusi yang berkaitan dengan luar negeri (kedutaan, waralaba luar negeri, hotel asing, dan sebagainya), tempat peribadatan (gereja, masjid), pusat bisnis, aparatur keamanan (kepolisian), dan ruang publik yang banyak didatangi masyarakat. Akan tetapi, tujuan dari aksi terorisme itu hampir sama satu sama lain, yaitu untuk menimbulkan keresahan, ketakutan, dan hilangnya rasa aman di tengah – tengah masyarakat.

Pemicu Timbulnya Aksi Terorisme

Faktor – Faktor Ekonomi sebagai Pemicu Aksi Terorisme

Dalam perkembangannya, muncul berbagai hipotesis dan argumen yang berusaha menjelaskan faktor - faktor apa yang sebenarnya menjadi penyebab utama munculnya aksi - aksi terorisme di seluruh dunia, salah satunya adalah faktor yang berkaitan dengan perekonomian suatu negara. Faktor – faktor ekonomi ini meliputi faktor geopolitik dalam pengelolaan sumber daya alam negara berkembang oleh negara maju dan faktor – faktor sosioekonomi, seperti kondisi ekonomi masyarakat, kemiskinan, dan pendidikan (human capital).

Menurut Ehrlich dan Liu (2002), faktor geopolitik, khususnya dalam kasus negara kaya (negara maju) yang berusaha mengendalikan sumber daya minyak bumi yang dimiliki negara berkembang mendorong terjadinya serangan teroris yang ditujukan pada negara maju tersebut yang dilakukan oleh segelintir orang dari negara berkembang. Hal ini terkait dengan investasi besar – besaran yang dilakukan negara maju untuk mengeksploitasi sumber daya di negara berkembang yang menimbulkan ketidakadilan ekonomi.

Lebih lanjut, Ehrlich dan Liu (2002) juga mengungkapkan bahwa faktor - faktor sosioekonomi, khususnya masalah kemiskinan, ketidakadilan sosial, dan besarnya jumlah pengangguran atau generasi muda yang tidak memiliki prospek ekonomi, bisa jadi salah satu penyebab yang memberikan sumbangsih dalam mendorong terjadinya aksi - aksi terorisme. Akan tetapi, mengenai signifikansi faktor – faktor tersebut dalam menjelaskan pemicu terorisme masih diperdebatkan dan banyak memunculkan pertentangan. Maka dari itu, faktor - faktor sosioekonomi kerap kali luput dari perhatian negara maju, padahal faktor tersebut memiliki potensi menciptakan kelemahan - kelemahan yang dapat memotivasi tindakan terorisme dan memudahkan perekrutan teroris. Terkait hal tersebut, perlu adanya  upaya - upaya khusus yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kelemahan – kelemahan sosioekonomi yang ada. Negara - negara maju, khususnya Amerika Serikat, dirasa mampu untuk membantu upaya penurunan angka terorisme dengan cara mengontrol konsumsi yang berlebihan (over-consumption) dan meningkatkan jumlah bantuan (aid) bagi negara - negara berkembang.

Memang perlu diakui bahwa faktor - faktor kondisi sosioekonomi bukanlah penyebab utama atau penyebab satu – satunya dari timbulnya aksi serangan teroris. Buktinya, tidak semua negara - negara di Asia Tenggara dan Amerika Latin yang memiliki kondisi sosioekonomi yang sama dengan Indonesia memunculkan gerakan terorisme dan mengalami serangan teroris seperti Indonesia. Selain itu, walaupun jumlah orang miskin di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, sangat banyak jumlahnya (bisa jadi lebih dari lima puluh persen dari jumlah penduduk), sebagian besar penduduk bukanlah teroris atau dengan kata lain hanya sedikit sekali anggota masyarakat yang menjadi teroris.

Menurut Ehrlich dan Liu (2002), banyak orang, baik orang miskin maupun orang kaya, di negara berkembang lebih banyak memberikan perhatian pada kehidupan mereka sehari - hari dibandingkan harus melakukan tindakan -tindakan terorisme demi kepentingan politik. Maka dari itu, penjelasan mengenai faktor – faktor penyebab timbulnya aksi terorisme di suatu negara memerlukan pengkajian lebih lanjut terkait aspek – aspek budaya, sejarah, politik, dan agama, bukan hanya ditinjau dari kondisi ekonomi dan kesejahteraannya.

Literatur empiris menunjukkan bahwa kemiskinan dan kondisi ekonomi tidak memiliki korelasi dengan jumlah aksi teror, teori memprediksi bahwa kemiskinan dan kondisi ekonomi yang buruk dapat mempengaruhi kualitas aksi teror yang terjadi (Benmelech, Berrebi, dan Klor, 2010). Dalam teori dijelaskan bahwa kondisi perekonomian yang buruk dapat mendorong orang – orang yang memiliki kemampuan lebih dan pendidikan tinggi untuk ikut serta dalam suatu aksi terorisme dan memungkinkan organisasi teror radikal mengirimkan teroris dengan kualifikasi yang lebih baik ke dalam suatu misi terorisme yang lebih kompleks dan dampak yang lebih besar. Benmelech, Berrebi, dan Klor (2010) menemukan bukti adanya korelasi antara kondisi ekonomi, karakteristik teroris bom bunuh diri, dan target serangan mereka, berdasarkan kasus teroris bom bunuh diri dalam konflik Palestina dan Israel.

Pemaparan Benmelech, Berrebi, dan Klor (2010) bahwa tingkat pengangguran yang tinggi dan kondisi perekonomian yang buruk memungkinkan organisasi teror untuk merekrut teroris yang lebih berpendidikan, dewasa, dan berpengalaman, kontradiktif dengan pemaparan Ehrlich dan Liu (2002). Namun, apabila analisis tersebut benar adanya, maka kesimpulan ini bisa menjelaskan mengapa hanya segelintir orang yang menjadi teroris di negara berkembang yang memiliki jumlah penduduk miskin yang relatif besar.

Argumen tentang faktor – faktor ekonomi sebagai pemicu terorisme ini bisa menjelaskan pemicu terorisme di Indonesia, di mana tingkat pengangguran yang masih tinggi dan kondisi kesejahteraan masyarakat yang buruk mendorong sejumlah orang berpendidikan untuk menjadi otak tindakan teroris. Namun, di sisi lain, kondisi masyarakat yang masih miskin dan berpendidikan rendah juga memudahkan teroris untuk merekrut teroris untuk melakukan serangan bom bunuh diri.

Terorisme sebagai Implikasi Kegagalan Pemerintah

Argumen lain yang berusaha menjelaskan motif di balik aksi terorisme di Indonesia adalah terkait kegagalan pemerintah. Hidayat (2011) dan Pirous (2011) menyatakan bahwa masih tumbuhnya kegiatan terorisme di Indonesia, antara lain, karena pemerintah dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan rakyat, melakukan penegakan hukum, dan memenuhi janji-janjinya semasa kampanye.#

Lebih lanjut, munculnya tindakan terorisme di Indonesia merupakan implikasi dari buruknya kondisi bangsa saat ini yang membuat banyak orang frustrasi. Hal ini ditandai dengan beberapa indikator ekonomi dan politik, antara lain tindakan korupsi yang terus merajalela, ekonomi rakyat kecil yang sulit dan semakin terdesak, jaminan keamanan bagi masyarakat yang rendah (kegagalan aparatur keamanan dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat), para pemimpin pemerintahan tidak lagi mampu memberikan teladan atau contoh yang baik kepada masyarakat (buruknya moral para wakil rakyat yang semakin terekspos media), dan konspirasi global yang merugikan bangsa atau umat tertentu (seperti: konspirasi zionis, konspirasi organisasi – organisasi multilateral internasional, dan lain-lain). Indikator – indikator tersebut memunculkan anggapan bagi segelintir orang bahwa Indonesia saat ini telah menjadi negara yang gagal (failed states) di sejumlah bidang, khususnya yang terkait dengan kesejahteraan rakyat.

Argumen bahwa tindakan terorisme di Indonesia dipicu oleh kegagalan pemerintah juga dapat dihubungkan dengan argumen sebelumnya yang menjelaskan bahwa tindakan terorisme disebabkan kondisi sosioekonomi yang buruk. Kedua argumen tersebut dapat melengkapi satu sama lain. Munculnya anggapan bahwa pemerintah Indonesia telah gagal dalam menjalankan perannya selama ini, baik dalam kesejahteraan masyarakat, penegakan hukum, maupun politik luar negeri, mendorong segelintir orang berpendidikan untuk merancang aksi terorisme. Kondisi kesejahteraan masyarakat yang rendah dan tingkat pengangguran tinggi memudahkan otak aksi terorisme tersebut untuk merekrut pelaku – pelaku terorisme lainnya, khususnya yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.

Konspirasi Penguasa dan Aparat di Balik Aksi Terorisme

Selain faktor – faktor sosial dan ekonomi, muncul pula argumen yang menyatakan bahwa tindakan – tindakan terorisme yang ada di Indonesia hanyalah rekayasa penguasa belaka. Dalam hal ini, faktor politik dan pemerintahan yang berperan dalam menimbulkan aksi – aksi terorisme di dalam negeri.

Abshor# (2011) menilai bahwa pemerintah baru berhasil mengatasi terorisme di Indonesia, namun, di sisi lain, pemerintah belum berhasil mencegah tindakan terorisme dalam bentuk deradikalisasi. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk dapat merangkul organisasi yang mendukung pluralisme dan mengembangkan pemahaman kepada seluruh lapisan masyarakat
bahwa aksi kekerasan dalam bentuk apapun tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, peran pemuka agama dan tokoh masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk menghapuskan paham – paham keagamaan yang radikal dan meniadakan kekerasan antarumat beragama.

Latief# (2011) menilai kembali maraknya aksi terorisme di Indonesia pada tahun 2011 menimbulkan banyak praduga, apakah aksi teror yang terjadi antara nyata dan rekayasa (real – unreal). Muncul argumen yang menyatakan bahwa aksi terorisme yang terjadi belakangan ini memiliki kaitan dengan korban – korban kekerasan di masa lalu (khusunya, pada masa Orde Baru), mengingat aparat keamanan turut menjadi target serangan teroris. Di sisi lain, muncul pula argumen adanya keterlibatan negara dalam aksi terorisme. Dalam perjalanan sejarah Indonesia, terdapat hubungan antara skenario aparatur pertahana dan keamanan negara untuk melindungi kepentingan – kepentingan politik penguasa.

Argumen bahwa ada keterlibatan negara dalam aksi terorisme di Indonesia terdapat dalam film “Inside Indonesia’s War and Teror”. Film ini diproduksi oleh Dateline SBS (Special Broadcasting Service), sebuah stasiun televisi terkenal di Australia dan sudah ditayangkan pada tanggal 12 Oktober 2005. Film dokumenter tersebut menyimpulkan bahwa mayoritas aksi teror dan kerusuhan antaragama di Indonesia adalah proyek negara yang melibatkan TNI (Tentara Nasional Indonesia), Polri (Kepolisian Republik Indonesia), dan BIN (Badan Intelejen Negara). Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa ada suatu konspirasi politik penguasa di balik aksi – aksi terorisme di Indonesia.

Argumen ini memang sangat kontroversial dan bisa menyulut gejolak politik dan keamanan dalam negeri, serta menciptakan instabilitas nasional. Maka dari itu, pemerintah perlu menunjukkan keseriusan dalam memerangi terorisme sambil tetap menjalankan tugasnya dalam membela kepentingan rakyat, bukan hanya sekedar mengurusi kepentingan elit – elit politik.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada tiga argumen yang menjelaskan faktor – faktor pemicu timbulnya tindakan terorisme di Indonesia. Pertama, faktor – faktor ekonomi, tingkat pengangguran yang tinggi dan kondisi ekonomi yang buruk mendorong sejumlah orang untuk melakukan tindakan teroris. Kondisi sosioekonomi yang buruk juga memudahkan organisasi teroris dalam merekrut teroris untuk melakukan serangan bom bunuh diri. Kedua, kekecewaan akan kegagalan negara dalam menjalankan perannya selama ini, baik dalam hal ekonomi, penegakan hukum, maupun politik luar negeri, mendorong segelintir orang berpendidikan untuk merancang aksi terorisme. Ketiga, adanya konspirasi politik penguasa, di mana mayoritas aksi teror dan kerusuhan antaragama di Indonesia adalah proyek negara yang melibatkan TNI, Polri, dan BIN.

Perlu dilakukan penelitian dan pengujian lebih lanjut untuk membuktikan faktor mana yang paling signifikan dalam memicu aksi terorisme di Indonesia. Namun, di sisi lain, perlu adanya  upaya - upaya khusus yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kelemahan – kelemahan dalam bidang ekonomi, politik, keamanan, dan penegakan hukum yang ada. Negara - negara maju juga berpotensi untuk membantu upaya penurunan angka terorisme dengan cara meningkatkan jumlah bantuan (aid) bagi negara - negara berkembang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.


Bibliografi

Benmelech, E., Berrebi, C., & Klor, E. F. (2010). Economic Conditions and the Quality of Suicide Terrorism. NBER Working Paper No. 16320 August 2010 .
Ehrlich, P. R., & Liu, J. (2002). Some Roots of Terrorism. Population and Environment, Vol. 24, No. 2 (Nov., 2002) , 183-192.
Garoupa, N., Klick, J., & Parisi, F. (2006). A Law and Economics Perspective on Terrorism. Public Choice, Vol. 128, No. 1/2, The Political Economy of Terrorism (Jul., 2006) , 147-168.
Hidayat, T. Ulil: Pemerintah Belum Berhasil Cegah Terorisme. Diakses pada Juni 2, 2011,  dari http://news.okezone.com/read/2011/05/01/337/451964/ulil-pemerintah-belum-berhasil-cegah-terorisme.
Kamus Bahasa Indonesia. (.) Definisi Terorisme – Kamus Bahasa Indonesia. Diakses pada Juni 2, 2011,  dari http://kamusbahasaindonesia.org/terorisme
KOMPAS Cetak. (2011, April 24). Global TV Pastikan IF Tak Meliput Terorisme. Diakses pada April 24, 2011, dari http://cetak.kompas.com/read/2011/04/24/03082655/global.tv.pastikan.if.tak.meliput.terorisme
______. (2011, April 24). Polri Geledah di Cirebon. Diakses pada April 24, 2011, dari http://cetak.kompas.com/read/2011/04/25/02523517/polri.geledah.di.cirebon
______. (2011, April 24). Tajuk Rencana: Perlunya Solidaritas Bersama. Diakses pada April 24, 2011, dari http://cetak.kompas.com/read/2011/04/25/02523517/polri.geledah.di.cirebon
Kurrild-Klitgaard, P., Justesen, M. K., & Klemmensen, R. (2006). The Political Economy of Freedom, Democracy and Transnational Terrorism. Public Choice, Vol. 128, No. 1/2, The Political Economy of Terrorism (Jul., 2006) , 289-315.
Rachmat, A., et. al. Terorisme Indonesia, Antara Ada dan Tiada | Indonesia Media Online. Diakses pada Juni 2, 2011,  dari http://www.indonesiamedia.com/2011/04/20/terorisme-indonesia-antara-ada-dan-tiada/
Wikipedia. Terorisme di Indonesia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. Diakses pada Juni 2, 2011,  dari http://id.wikipedia.org/wiki/Terorisme_di_Indonesia.
Yudistira, C., dan Dundu, P.E. (2011, April 24). Kami Mengenal Mereka sebagai Pedagang Keliling. Diakses pada April 24, 2011, dari http://cetak.kompas.com/read/2011/04/25/0417283/kami..mengenal.mereka..sebagai.pedagang.keliling
Vivanews.com. Mabes Polri: Bom Cirebon Targetnya Polisi - Yahoo! News. Diakses pada Juni 2, 2011,  dari http://id.berita.yahoo.com/mabes-polri-bom-cirebon-targetnya-polisi-20110415-002223-512.html

0 komentar:

Poskan Komentar