Selasa, 27 Maret 2012

#BTWF Poster Contest to Inspire Bravery

We are calling on anyone and everyone with the ability to think creatively to come up with a visual representation for the Born This Way Foundation.

The image should inspire, activate and move people. But most of all, it should give supporters a way to show their dedication to the Foundation.

You can draw, design or even collage. There's no limit—just make sure your 11X17 poster includes the Born This Way Foundation name and answers the following question: What does bravery mean to you?

Once your poster is submitted, Lady Gaga and her mom will select ten posters to become semifinalists, then it'll be up to supporters like you to select the winning piece.

Wishing you the best of luck! The submission deadline is Wednesday, April 11.
 
Submit your poster today:
 

Menulis Ekonomi ala Gregory Mankiw

Courtesy: Mankiw's blog
Berikut ini merupakan artikel yang saya sadur dari blog Mankiw, profesor ilmu ekonomi Harvard yang namanya tak asing lagi di telinga mahasiswa FEUI. Ia bercerita dahulu saat menjadi ketua CEA, ia pernah memberikan pedoman penulisan Laporan Ekonomi Presiden untuk stafnya. Menurut sang profesor, pedoman ini merupakan aturan yang bagus, khususnya bagi tulisan ekonom yang ditujukan bagi khalayak umum. Menurut saya, pedoman ini juga penting agar masyarakat awam yang tidak tahu-menahu soal ekonomi bisa memahami tulisan ekonomi. Maka dari itu, pedoman ini patut pula dikuasai mahasiswa ekonomi yang ingin memberikan penjelasan ekonomi dari isu nasional yang sedang hangat, subsidi BBM, supaya masyarakat dan mahasiswa non-ekonomi tidak salah kaprah.

Pedoman Penulisan Ekonomi

  1. Tetap fokus. Ingat poin-poin penting yang perlu diingat pembaca. Materi yang tidak relevan dengan poin tersebut sebaiknya dihilangkan.
  2. Gunakan kalimat-kalimat yang pendek. Kata-kata yang pendek lebih baik daripada kata-kata yang panjang. Monosyllabic words are best (tetapi dalam kosakata Bahasa Indonesia kita jarang sekali menemukan kata-kata bersuku kata tunggal).
  3. Kalimat pasif dihindari oleh penulis yang baik. (Sedikit aneh, dosen penulisan ilmiah saya berpendapat bahwa kalimat pasif adalah bentuk formal dalam penulisan ilmiah.)
  4. Pernyataan positif lebih persuasif daripada pernyataan normatif.
  5. Gunakan kata keterangan secara .sparing
  6. Hindari jargon. Misalnya saja, kata-kata yang jarang anda temui di surat kabar.
  7. Jangan sembarangan membuat akronim (singkatan).
  8. Hindari kata-kata yang tidak penting. Sebagai contoh, banyak kasus di mana penulis mengganti: "in order to" menjadi "to" "whether or not"; menjadi "whether" "is equal to" menjadi "equals".
  9. Hindari penggunaan "of course", "clearly" dan "obviously". Clearly, jika sesuatu itu obvious, fakta tersebut, of course akan jelas dengan sendirinya.
  10. Penggunaan kata "very" (sangat) sangat sering menjadi sangat tidak penting.
  11. Usahakan tulisan anda self-contained (inilah hal yang menurut saya paling sulit). Terlalu sering merujuk pada tulisan lain atau sumber yang telah ada sebelumnya atau akan terbit setelahnya, dapat mengganggu.
  12. Tambahkan detail dan disgresi di footnotes. Kemudian hapus footnotes tersebut.
  13. Metafora grafis, anekdot menarik, atau fakta yang menghentak itu lebih bermakna daripada ribuan artikel di jurnal Econometrica.
  14. Tulis secara personal. Ingat pembaca bagaimana ilmu ekonomi mempengaruhi hidup mereka.
  15. Ingat selalu dua aturan dasar penggunaan istilah ekonomi. "Long run" (tanpa strip) itu kata benda. "Long-run" (dengan strip) itu kata sifat. Sama halnya dengan "short(-)run."
  16. "Saving" (tanpa s) adalah variabel flow. “Savings” (dengan s) adalah variabel stock.
  17. Beli buku Strunk and White’s Elements of Style, dan juga William Zinsser’s On Writing Well. Baca berulang kali.
  18. Usahakan untuk tetap simpel. Pikirkan pembaca anda adalah teman kosan anda dari jurusan Sastra Jawa, Fisika, atau Ilmu Keperawatan. Asumsikan mereka tak pernah mendapat mata kuliah ilmu ekonomi, or if he did, he used the wrong textbook (mungkin bukan buku Mankiw yang mereka pakai, lol).

Senin, 26 Maret 2012

University of Gothenburg Social Media Challenge

Competition Brief: Create a social media marketing plan for the University of Gothenburg to engage with current and future students. No mock-ups or deliverable are needed; a plan will suffice.
Deadline for submission: April 30, 2012
Prizes: The new 16GB iPad + a £450 gift card on Amazon.com and a winner's certificate.
To join this competition, you can directly open this link: http://on.fb.me/GU12-app

Minggu, 25 Maret 2012

Melek Internet Berkat Ponsel

Berikut ini adalah tulisan saya yang pernah dimuat di Harian Online Kabar Indonesia (bisa dibaca juga di sini) jauh sebelum orang Indonesia marak mengakses Internet lewat ponsel.


KabarIndonesia - Bagi sebagian masyarakat Indonesia, akses internet masih merupakan barang mahal yang hanya dapat dinikmati dan dimanfaatkan masyarakat golongan menengah ke atas. Selain karena masalah edukasi yang kurang terakomodasi oleh pemerintah, kurang meluasnya penggunaan internet di seluruh lapisan masyarakat. Ini juga dikarenakan kurangnya fasilitas pendukung untuk mengakses internet.

Populasi komputer pribadi di Indonesia masih sedikit jumlahnya bila dibandingkan negara-negara maju yang hampir semua aktivitasnya telah dapat dilakukan melalui internet. Kita pun bertanya-tanya akankah seluruh rakyat Indonesia dapat menikmati kepraktisan internet dalam kehidupan mereka.

Berbeda dengan komputer pribadi atau komputer jinjing yang masih jarang dimiliki masyarakat golongan menengah ke bawah. Saat ini telepon seluler atau ponsel dengan teknologi GPRS atau 3G telah banyak dimiliki masyarakat menengah ke bawah mengingat harganya yang semakin terjangkau.

Akan tetapi, kesadaran masyarakat untuk menggunakan fasilitas internet melalui ponsel dengan memanfaatkan layanan GPRS atau 3G masih sangat kurang. Padahal, potensi pemanfaatan GPRS dan 3G di Indonesia sebagai sarana untuk mempopulerkan penggunaan Internet di masyarakat Indonesia sangat besar.

Untuk itu, perlu adanya peran aktif dari penyelenggara layanan komunikasi seluler untuk menggalakan penggunaan Internet melalui ponsel atau yang lebih dikenal dengan mobile Internet. Selama ini layanan nilai tambah atau VAS yang diberikan hanya berkutat pada layanan pesan pendek atau SMS dan nada tunggu pribadi serta layanan download konten yang memakan banyak pulsa.

Terkadang pelanggan layanan-layanan tersebut merasa dirugikan karena benefit dan utilitas yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan jumlah pulsa yang mereka habiskan. Masih sangat jarang operator yang menambahkan nilai lebih pada layanan internetnya dan kalaupun ada pangsa pasarnya masih berkutat pada golongan menengah ke atas.

Penyelenggara layanan seluler di Indonesia harus turut serta dalam mengedukasi masyarakat Indonesia dalam memperluas penggunaan internet untuk tujuan positif dengan memberikan layanan nilai tambah yang relevan tentunya dan mungkin bisa mengadopsi apa yang sudah dilakukan negara lain. (*)

Jumat, 16 Desember 2011

Menulis Karya Tulis

Tadinya saya ingin menamai postingan kali ini dengan judul "Menulis Paper", tapi saya pikir akan lebih tepat jika mengganti istilah paper dengan karya tulis. Saya pikir keduanya dapat saling menggantikan. Selain kedua istilah itu, masih ada satu kata lagi yang biasa digunakan untuk merujuk pada tulisan yang bersifat ilmiah, yaitu makalah. Namun, entah mengapa istilah makalah terkesan jadul sehingga sudah jarang digunakan mahasiswa zaman sekarang. Istilah paper lebih enak untuk digunakan, setidaknya karena dua alasan. Pertama, istilah ini lebih pendek, dan kedua, istilah ini merupakan kata asing yang terkesan lebih keren dan intelek untuk digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kedua alasan tersebut sebatas pandangan saya. Dosen-dosen muda jebolan universitas luar pun lebih suka memakai istilah paper ketimbang makalah. Namun, beberapa dosen senior dan dosen yang berbinar (berbahasa Indonesia yang baik dan benar) tetap setia menggunakan istilah makalah.

Apalah arti sebuah nama, apalagi kalau itu hanya sebatas sebutan semata. Mahasiswa pun tak ambil pusing, mereka mengasumsikan kedua istilah itu, paper dan makalah, sebagai satu bentuk tulisan yang sama. Demikian pula halnya dengan saya, bagi saya makalah dan paper itu adalah dua 'makhluk' yang sama rupanya.

Perlu saya nyatakan di sini bahwa saya bukanlah orang yang jago menulis paper. Yah, walaupun pernah menjadi juara di beberapa LKTI tingkat nasional, saya akui paper buatan saya masih jauh dari sempurna. Banyak kesalahan sana-sini yang perlu ditambal agar sesuai dengan kaidah penulisan karya tulis ilmiah yang seharusnya.

Ketidaksempurnaan saya dalam menulis paper tercermin dari proposal skripsi yang memerlukan banyak sekali revisi. Belum lagi kebiasaan menunda-nunda, membuat paper saya semakin tidak sempurna, atau lebih parah, tidak selesai sama sekali. Orang-orang tetap saja menyangka bahwa saya orang yang pandai dan dapat dengan mudahnya menulis paper. Sungguh itu adalah sangkaan yang salah.

Menulis karya tulis sesungguhnya bukanlah hal yang sulit. Pernah saya mendengar suatu istilah "keep your hand moving". Kalau tidak salah, maksud dari istilah itu adalah sering-seringlah menulis, lama-lama juga akan terbiasa dan kualitas tulisan akan semakin bagus tentunya. Kaidah-kaidah penulisan ilmiah sendiri dengan mudah dapat dipelajari dari materi-materi di berbagai situs. Manajemen waktu merupakan hal yang paling esensial dalam menentukan keberhasilan seorang penulis dalam menyelesaikan tulisannya. Maka dari itu, jangan tunda lagi, mulai menulis dari sekarang!


Published with Blogger-droid v2.0.2

Kamis, 13 Oktober 2011

Kicauan Skripsi Anies Baswedan

Kicauan Anies Baswedan kemarin benar-benar membuat mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi (saya salah satunya) merasa tercerahkan. Kicauan beliau memiliki makna tersendiri, sebagian menohok, sebagian lagi memotivasi. Berikut ini rangkuman kicauan @aniesbaswedan di situs microblogging Twitter, Rabu malam lalu.

  1. Menulis skripsi adalah menaklukan diri sendiri.
  2. Cara mengerjakan skripsi adalah potret diri penulisnya saat senyatanya kerja mandiri.
  3. Skripsi bukan sekadar soal riset; skripsi adalah simulasi cara berkarya/bekerja setelah lulus kuliah.
  4. Menunda2 pengerjaan skripsi adalah mengakumulasi rasa sesal. Akhirnya skripsi yg ditunda2 itu ttp hrs diselesaikan jg.
  5. Membaca referensi banyak2 buat skripsi itu baik tapi menuliskan hasil bacaan itu jauh lebih baik.
  6. Makin lama jeda pengerjaan skripsi, makin sulit memulainya lg. Makin sulit memulai lg, makin lama selesainya.
  7. Skripsi adl refleksi dri sbagian ilmu yg tlah kt dptkan & dirangkum mnjdi sbuah tulisan yg brmanfaat dgn dilandasi kejujuran (RT dari @dutaparamadina).
  8. Terakhir. Mengerjakan skripsi itu baik, tapi menyelesaikan skripsi itu jauh lebih baik :)

image

Kicauan pertama, benar sekali. Itu pula yang terjadi pada diri saya saat ini. Terkadang saya tidak kuasa menaklukan diri sendiri sehingga skripsi pun tak kunjung ditulis-tulis. Ketidakmampuan menaklukan diri membuat pengerjaan skripsi selalu ditunda-tunda yang tentu mengakumulasi rasa sesal karena waktu telah terbuang percuma, sedangkan skripsi tetap harus diselesaikan tepat pada waktunya (kicauan keempat). Kicauan kedua, cara pengerjaan skripsi memang menggambarkan potret diri penulis, khususnya terkait kemampuan mengatur waktu (time management). Karena tahu jeda waktu pengerjaan skripsi masih lama, rasanya jadi sulit untuk memulai (kicauan keenam). Mungkin ini, yang disebut sebagai moral hazard seorang deadliner. Kicauan terakhir merupakan yang paling berkesan, ya, menyelesaikan skripsi itu jauh lebih baik, atau mungkin hal terbaik semasa kuliah sarjana. Ayo selesaikan skripsi, sekarang juga! #SaveSkripsi